Member Login

Lost your password?

Registration

Arti hidup


Bisakah Kita Memilih untuk Tidak Sakit Hati?

Tentang Sakit Hati dan Tersinggung

BISAKAH KITA MEMILIH UNTUK TIDAK SAKIT HATI?
Hari ini aku dihadapkan kepada hal yang sangat mendasar.
Mengampuni yang bersalah kepadaku, secepat mungkin.
Aku tidak membalas, aku menangis kepada Bapa karena merasa disakiti.
Aku tidak mengubah bahasa tubuhku, dan memberi kesan bahwa aku tidak mengampuninya.
Bisakah orang yang merasa tersakiti mengampuni seketika itu juga?
Tidakkah itu berarti membenarkan perbuatan orang itu? dan membuka kesempatan peristiwa yang menyakitkan itu terjadi lagi?
Ataukah aku seharusnya tidak merasa sakit? karena sakit hati atau tidak itu adalah pilihan.
Jadi apakah seharusnya bukan “mengampuni”, tetapi “memilih untuk tidak sakit hati” yang benar?
Bagaimanapun aku harus mengampuni, karena aku bukan milikku lagi, tetapi milik Allah.
Aku tahu bahwa Tuhan Yesus itu pengampun, dan jika aku tidak mengampuni maka aku juga tidak akan diampuni oleh Bapa.
Jika aku memilih untuk sakit hati, kemudian mengampuni beberapa jam kemudian, maka tubuhku sudah sakit semua.
Aku tidak bisa tidur, kepalaku sakit, dan hatiku gelisah.
Setelah aku mengampuni, perasaan itu akan hilang.
Apa yang terjadi jika aku “memilih untuk tidak sakit hati”?
Benarkah sakit hati itu pilihan? Dapatkah aku “memilih untuk tidak sakit hati”?
Seperti yang dikatakan Joyce Meyer, “I am not easy to offend”. Let’s try it, we still live in this world,
as long as we have a wife, a husband, a friend, or employees, we’re gonna face it again.
Aku tahu aku sudah membuat kemajuan dengan tidak membalasnya, dan memilih untuk menangis dalam hatiku.
Tetapi aku juga tahu bahwa ini bukanlah cara untuk menikmati hidup.
Aku tahu aku belum menang di area ini.
Di http://www.lds.org/general-conference/2006/10/and-nothing-shall-offend-them dikatakan bahwa;
sakit hati, tersinggung, merasa tidak diperhatikan, dianggap orang luar,
ternyata adalah penyebab paling sering orang tidak lagi datang ke gereja.
Saat kita memilih untuk sakit hati, maka kita menghalangi diri kita untuk merasakan hadirat Allah, untuk bertumbuh, dan melayani orang lain.
Ada konsekuensi yang besar dibalik rasa sakit yang sangat biasa.
Aku bisa memilih untuk tidak tersakiti, dengan mengubah gerak tubuhku, maka perasaanku pun akan berubah.
Aku bisa tersenyum atau bahkan tertawa.
Aku tahu kadang aku lupa bahwa aku bisa memilih, inipun bagian dari kebiasaan.
Lebih sering aku melakukannya, lebih mudah pula aku memenangkannya.
Tuhan Yesus adalah contoh mengenai bagaimana kita harus bersikap apabila kita merasa sakit hatiterhina, tersakiti atau terabaikan.
Mrk. 10:34    dan Ia akan diolok-olokkan, diludahi, disesah dan dibunuh, dan sesudah tiga hari Ia akan bangkit.”
Mat. 26:67    Lalu mereka meludahi muka-Nya dan meninju-Nya; orang-orang lain memukul Dia,
Mzm. 119:165    Besarlah ketenteraman pada orang-orang yang mencintai Taurat-Mu, tidak ada batu sandungan bagi mereka.
Bagaimana caranya?
– Aku akan mengatakan; “I’m not easy to offend” (Joyce meyer)
– Ubah gerak tubuh, tersenyum atau tertawa (Tung Desem – Anthony Robbins)
Miliki pikiran yang benar (Ferry Winarko):
– Tidak memandang diri kita lebih tinggi daripada orang lain
– Ingat sesuatu yang kamu sukai dari orang itu
– Tuhan mengasihi orang itu, maka kita juga harus mengasihi orang itu.
– Karena perjuangan kita bukan melawan darah dan daging, orang itu bukan musuh kita.
Ef. 6:12    karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara.
Kita tidak bisa mengendalikan seberapa sering orang menyakiti kita, tetapi kita bisa memilih untuk tidak merasa tersakiti.
Stephen Covey menyebutnya “proaktif”, Tuhan Yesus menyebutnya “rendah hati”
Marah adalah pilihan, sebab kita dikatakan bisa mengontrol waktu untuk marah.
Yak. 1:19    Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah;
Marah adalah kebodohan
Pkh. 7:9    Janganlah lekas-lekas marah dalam hati, karena amarah menetap dalam dada orang bodoh.
Ams. 14:29    Orang yang sabar besar pengertiannya, tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan.
Panas hati membawa kepada kejahatan.
Mzm. 37:8    Berhentilah marah dan tinggalkanlah panas hati itu, jangan marah, itu hanya membawa kepada kejahatan.


Bagikan kalau Anda mendapat sesuatu:

Share: Dilihat 667 kali

Artikel dalam kategori ini:


emas
» Disucikan dan dimurnikan dan diuji
mulutku harimauku
» Mulutku Harimauku
love
» Cinta adalah Motivasi Terbesar

» Ora et Labora - Bekerja untuk Siapa?
mengalah
» Mengalah

Tags: , ,

Leave a Reply