Member Login

Lost your password?

Registration

Arti hidup


Jalan Menuju ke Surga

jalan

Ada banyak agama di dunia ini, masing-masing menunjukkan jalan menuju Surga.

Agama Budha mengajarkan cara untuk mencapai nirwana, suatu keadaan yang abstrak adalah dengan meninggalkan identitas kita sebagai manusia. Segala keinginan harus ditinggalkan.

Hinduisme mengajarkan bahwa orang hanya dapat berhubungan dengan Tuhan yang impersonal. Dosa manusia adalah melupakan bahwa dalam pengertian tertentu kita ini sebenarnya adalah Allah. Pengarang Hindu yang populer, Deepak Chopra mengatakan, “Dalam kenyataannya, kita adalah keilahian yang tersamar, dan dewa dewi dalam embrio yang ada di dalam diri kita sedang mencari jalan untuk mencapai wujudnya.”

Umat muslim meyakini bahwa perbuatan baik harus melampaui perbuatan buruk agar bisa masuk surga.

Katholik memiliki kemiripan dengan Kekristenan kecuali pada beberapa bagian pengajarannya dan kitab yang diakui.

Ada begitu banyak kepercayaan lain, tetapi lima agama inilah yang jumlah penganutnya terbanyak.

MANAKAH YANG ANDA PERCAYAI?

Tentu saja jika Anda tidak memiliki praduga apapun, tidak berasal dari keluarga yang berlatar belakang agama tertentu, atau tidak pernah dididik oleh agama tertentu maka Anda akan seperti dihadapkan gambar di atas, petunjuk jalan dengan begitu banyak arah!

Untuk mengatakan bahwa suatu agama itu salah, bukanlah suatu perbuatan yang mulia. Jika seseorang berpegang kepada kebenaran kepercayaannya, atau ia meninggalkan kepercayaannya yang lama karena menemukan sesuatu yang lebih baik yang dapat menjamin jalannya menuju Surga, maka itu haruslah berasal dari orang itu sendiri, tidak ada yang dapat memaksa seseorang mempercayai sesuatu.

Atas dasar ini, saya pun tidak boleh mengatakan bahwa jalan siapa-siapa salah dengan cara yang tidak menyenangkan. Saya hanya akan menunjukkan jalan yang saya percayai. Baik saudara percaya atau tidak, saya akan tetap mengasihi saudara sekalipun tidak setuju dengan saya 🙂

MENGAPA HARUS ADA JALAN?

Jalan ada karena orang ingin berpindah dari satu tempat ke tempat yang lain. Mengapa orang ingin berpindah? Karena ia merasa ada yang lebih baik di sana, secara temporary atau permanen.

Jalan menuju surga ada karena tempat kita sekarang ini bukanlah surga. Kita sudah terpisah dari Allah oleh karena dosa. Allah di surga, manusia di bumi, itulah sebabnya ada “jalan menuju surga”.

JIKA MENGETAHUI KEBENARAN, APAKAH SAYA AKAN PINDAH KE JALAN YANG BENAR?

Jim Elliot yang telah mati sebagai martir pernah berkata, “Bukanlah hal yang bodoh jika seseorang melepaskan apa yang tidak bisa ia pertahankan untuk mendapatkan sesuatu yang tidak akan pernah hilang dari dirinya.”

Apakah sesuatu yang tidak pernah hilang itu? Itulah surga. Segala sesuatu yang kita miliki atau ingin kita miliki akan lenyap bersama dengan berakhirnya hidup kita, tetapi surga itu kekal, abadi. Karena itu jalan menuju surga adalah hal penting untuk dipikirkan oleh semua orang. Jika Anda saja merencanakan bisnis Anda yang bisa hilang dalam sekejap, mengapa Anda tidak merencanakan hidup Anda yang untuk selamanya?

Untuk apakah jalan tol ada? Prinsipnya adalah, jika ada jalan yang lurus (sirat-al-mustaqim), mengapa ikut jalan yang berputar-putar?

APAKAH SEMUA AGAMA SAMA?

Saya setuju bahwa ada beberapa kesamaan dari semua agama, seperti sama-sama mengajarkan untuk ramah dan baik kepada orang lain. Tetapi semua agama berbeda soal jalan menuju surga. Jika petunjuk jalan ke suatu tempat (ingat gambar di atas) menunjuk ke semua arah, apakah itu bisa disebut penunjuk jalan? Tentu saja tidak. Artinya pasti ada satu jalan yang benar.

Ada banyak jalan menuju Roma, tetapi hanya ada satu jalan menuju Surga.

APAKAH AMAL SESEORANG DAPAT MEMASUKANNYA KE SURGA?

Seseorang pernah bertanya, “Mengapa perbuatan baik tidak cukup untuk membawa saya masuk ke dalam surga? dan “Mengapa Allah tidak bisa membiarkan saya langsung masuk surga?” Pertanyaan yang sebenarnya dibalik pertanyaan-pertanyaan itu adalah, “Apakah Allah sungguh benar dan adil saat menghadapi manusia?” Saudara, kebenaran yang saya ingin saudara pahami adalah: Sebagai manusia, kita cenderung menilai terlalu tinggi kebenaran diri kita dan menilai terlalu rendah kesucian Allah. Orang yang bertanya ini sedang minum secangkir air, lalu saya bertanya kepadanya, “Bolehkah memasukkan sedikit saja kotoran di dalam air minum Anda?”

Tentu saja, ia menjawab tidak.

“Apakah Anda memperhatikan bahwa ada hal-hal yang kelihatannya begitu kecil namun pada kenyataannya memberikan pengaruh yang sangat besar? Sama halnya dengan itu, kita dapat memandang dosa kita dan menganggapnya bukan masalah besar, tetapi dari sudut pandang Allah dosa itu berpengaruh besar terhadap hubungan kita dengan Dia”

Kitab Yesaya menuliskan, “Demikianlah kami sekalian seperti seorang najis dan segala kesalehan kami seperti kain kotor; kami sekalian menjadi layu seperti daun dan kami lenyap oleh kejahatan kami seperti daun dilenyapkan oleh angin.”

Penulis Injil setuju bahwa segala amal baik kita tidak akan membuat kita masuk surga.

Hadits muslim juga sependapat dengan hal ini. Ada tertulis Dari Jabir r.a katanya dia mendengar Nabi Saw. bersabda: “Bukan amal seseorang yang memasukkannya ke Surga atau melepaskannya dari neraka, termasuk juga aku, tetapi ialah semata-mata rahmat Allah Swt. belaka” HSM 2414

SIAPA YANG BERANI MENGATAKAN JALANNYA BENAR?

Yesus adalah satu-satunya orang dalam kitab suci atau nabi yang pernah berkata, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

Budha menyatakan diri sebagai penunjuk jalan, Muhammad menyatakan diri sebagai nabi Allah, tetapi Yesus Kristus (Isa Al masih) adalah satu-satunya pemimpin agama yang pernah menyatakan diri-Nya sebagai Allah, menggenapi nubuat, hidup tanpa dosa, kemudian wafat di kayu salib dan bangkit dari antara orang mati.

Jika hanya ada satu jalan yang benar, ini berarti keputusan untuk mempercayai Yesus adalah sangat menentukan hidup kita. Jika Yesus salah, maka kita harus bergantung kepada moralitas dan perbuatan baik untuk sampai ke surga. Tetapi bagaimana jika Yesus benar? Bagaimana jika Allah benar-benar menyatakan bahwa saudara dan saya tidak akan sanggup menjadi benar di hadapan-Nya kecuali dosa kita dihapuskan? Maka keputusan untuk menolak Yesus adalah hal yang sangat Anda sesali di akhir hidup kita.

Semua agama di dunia, kecuali kepercayaan Kristiani mengatakan, “lakukan ini” supaya masuk surga. Islam berkata, “perbuatan baik Anda harus lebih banyak melampaui perbuatan buruk Anda.” Hinduisme mengatakan, “Anda harus membayar utang karma dan menghindari siklus reinkarnasi dengan melakukan perbuatan baik.” Buddhisme mengatakan, “Anda harus menyingkirkan keinginan melalui delapan jalan kebenaran.” Semua agama di dunia ini mengatakan bahwa Anda harus melakukan sesuatu.

Kepercayaan Kristiani, sebaliknya, bicara bukan soal melakukan sesuatu, tetapi soal apa yang sudah dilakukan.

Bahwa Yesus sudah melakukan pengorbanan untuk menanggung hukuman akibat dosa-dosa saya.

Apakah saya sedang bersikap angkuh dengan mengatakan bahwa Yesus adalah satu-satunya jalan? Saudara, saya sependapat dengan Anda bahwa kita seharusnya tidak bersikap angkuh karena kepercayaan yang kita miliki atau berpikir bahwa kita lebih baik dari orang lain yang berbeda kepercayaan. Saya melihat diri saya hanya sebagai seorang pengemis yang mengatakan kepada pengemis lain di mana mendapatkan roti.

MEMULAI DARI YANG AKHIR

Penulis The Seven Habits of Highly Effective People, Stephen R. Covey menulis, “Salah satu dari tujuh kebiasaan baik manusia adalah memulai dari akhirnya.” Segala sesuatu diciptakan dua kali, artinya akhir akan menentukan prosesnya. Dengan kata lain kita sebaiknya membayangkan bagaimana akhir hidup kita, karena itu akan menentukan apa yang kita lakukan  selama hidup ini.

Mari kita bayangkan kita sendiri di akhir hidup kita.

Jika Anda sampai di penghujung hidup dan bertemu dengan Yesus serta para pemimpin agama lainnya, yang masing-masing menganjurkan jalan yang berbeda, saran siapa yang akan Anda ikuti? Tidakkah Anda akan mengikuti nasihat dari seseorang yang pernah mengalami kematian dan kemudian bangkit kembali?

 

Bacaan selanjutnya:

Siapa Yesus itu? dan mengapa Ia menyebut diri-Nya satu-satunya jalan menuju surga?

 

yesus

Saudaraku, maukah saudara menerima Yesus sekarang ke dalam hati saudara sebagai Juru Selamat saudara, dan menerima jalan menuju sorga?
– Ya, saya mau menerima-Nya, tolong doakan saya

– Tidak, saya butuh waktu untuk berpikir


Bagikan kalau Anda mendapat sesuatu:

Share: Dilihat 1361 kali

Artikel dalam kategori ini:


kematian
» Mengapa Manusia Mati?
yesus
» Siapa Itu Yesus?

Tags: , , ,

Comments are closed.